• Home
  • About Me
  • Contact
  • Sitemap

a Little Journey of Life

dok.pri.

Menuju tahun 2018 hanya tinggal menghitung hari saja. Menyambut tahun baru yang penuh teka-teki patut dilewati dengan beragam sukacita.
Rencana berlibur atau sekedar berkumpul dengan keluarga atau orang terdekat pastinya sudah dibicarakan jauh jauh hari bahkan sampai sebulan, dua bulan, tiga bulan (cukup!) sebelumnya.

Sebelum datangnya malam pergantian tahun 2017 ke 2018, masihkah ada harapan yang belum tercapai? Adakah deretan resolusi yang dicatat namun berbalik arah? Atau sudah cukupkah dengan limpahan nikmat yang tak terduga?

Perjalanan selama setahun ini memang cukup menarik bagi saya. Begitu banyak nikmatNya yang didapatkan, seringkali membuat saya lupa mengucap syukur. Banyak pilihan yang membuat saya sadar bahwa semua rencana atau yang digariskan olehNya pasti ada hikmahnya.

Pergantian malam tahun 2017 berbekal tangga kayu yang hampir lapuk demi melihat kembang api di langit Jogja. Malam itu bisa jadi malam yang paling absurd untuk merayakan tahun baru dari tahun tahun sebelumnya. Di atas genteng kami (saya dan dia) melewati malam itu. Hahaha. Alasan yang cukup mendasar mungkin malas berdesakan di keramaian yang penuh harapan orang-orang. Dan alasan lainnya lebih baik menyimpan tenaga karena esok akan di kuras untuk piknik seperti biasa.

Ditahun ini sedikit dari harapan  sebelumnya sudah terwujud. Tuhan telah mendengar bisikan saya selama ini. Saya diberikan kesempatan untuk bekerja di perusahaan yang cukup terkenal. Pekerjaan dengan gaji berlipat-lipat dari pekerjaan sebelumnya ternyata tidak sebahagia seperti mendengar atau membaca kata 'gaji berlipat-lipat'. Pekerjaan yang mengizinkan saya bertemu dengan teman teman yang tahan banting dan mampu bertahan dengan pekerjaan yang pernah menjadi daftar untuk dihindari. Dan pada akhirnya memutuskan untuk berhenti (bukan menyerah) sesuai kontrak perjanjian.

Di tahun ini pun saya memutuskan untuk berhijab, sebuah proses yang diperlukan kesiapan mental yang benar-benar kuat dan matang. Keinginan bertahun-tahun yang seringkali tergeser. Doa saya, semoga Tuhan mengkokohkan iman saya dan selalu menunjukkan jalan yang benar.

Di tahun ini pula saya berhasil melewati hari-hari bersama dia. Tiga tahun rasanya sungguh tidak disangka sangka. Perjalanan dua orang yang pernah sama-sama menelan pahit untuk kali pertama. Yeaaay... We're the winner! Once again... Terimakasih sudah menjadi tawa, rindu, dan bulir air mata serta macam macam rasa.

Dan... Terimakasih Semesta!

2018. Saya percaya lebih, lebih dan lebih mampu dari tahun tahun sebelumnya. :)))
Capture by Evinta

Tiga tahun sudah berlalu,
Kenyataan yang tidak disangka bahwa sejauh ini kita melangkah. Satu langkah untuk saling menguatkan, terkadang rasa ingin menyerah mencoba menghampiri.

Tiga tahun sudah berlalu,
Sebuah babak baru yang kita capai untuk kali pertama. Sebuah perjalanan yang tak pernah mudah dilalui meski jarak sebagai penengahnya.

Tiga tahun sudah berlalu,
Banyak hal yang patut disyukuri dan dijadikan bahan pembelajaran. Seperti halnya kesempatan bagi saya untuk (selalu) belajar memantaskan diri walaupun diam-diam sering membandingkan dengan perempuan lain.

Terimakasih untuk tawa, kesabaran, temu, rindu, perhatian, kasih sayang, dan tangis bahkan kekecewaan yang kamu hadirkan.

Terimakasih untuk segala usaha dan kerelaan demi kebahagiaan saya. Berharap di balik itu (usaha) tidak terselip rasa menyesal.

Terimakasih sudah mengajariku untuk melatih sabar, pengertian, memahamimu yang sesekali ego tidak ingin dikesampingkan.

Semoga untuk tiga tahun lebih tiga belas hari, aku masih pantas berjalan beriringan denganmu bukan hanya kemarin dan dihari ini saja. 


Satu dari deretan mimpi dan kebahagiaan



Melihat tweet di atas membuat saya kembali mengingat satu masa yang terlewatkan. Seolah mesin waktu sedang berputar dengan sekejap menemukan keyword di dalam folder perjalanan hidup. Masa yang tidak terlepas dari titik hitam yang selalu membayangi. 

Seandainya mesin waktu benar benar diciptakan, saya akan maju di barisan paling depan dan berteriak dengan lantang untuk dibawa ke perjumpaan terakhir dan menyatu dalam kerumunan yang penuh duka. Enam tahun yang lalu. Cukup berada di samping beliau dan sesekali memegang tangan dan berbisik bahwa kita akan bertemu lagi di alam yang sesungguhnya. Hanya itu. :')

Ya.. Subuh kala itu merupakan pertanda beliau harus pulang ke pelukan Yang Maha Kuasa. Kepulangan yang menyisakan kenangan dan begitu menyesakkan dada. Kepergian yang bertepatan dengan hari dimana saya dituntut untuk bertanggungjawab penuh menyelesaikan tugas akhir sekolah. Sudah pasti sangat sangat dan sangat memecah konsentrasi. 

Tiga hari sebelum peristiwa itu beliau sempat hadir di mimpi dan maksud kedatangannya hanya menyampaikan pesan namun begitu sulit untuk mengeja detailnya. Pada akhirnya pesan yang hanya dianggap angin lalu dan lebih baik untuk disimpan sendiri. 

Enam tahun tidaklah mudah untuk saya lalui, kini hanya bisa mengenang beliau lewat deretan buku usang di pojok almari yang (dulu) hampir setiap hari beliau baca, secarik kertas dengan ciri khas tulisannya dan berisi point point yang akan disampaikan ke tamu undangan, selimut tenun berwarna hitam kecoklatan sebagai oleh oleh perjalanan ke Indonesia Bagian Timur, sesederhana percakapan dan tawa setiap pagi dan sore di meja dapur sekedar menikmati gorengan dan teh hangat. 

Banyak orang berkata bahwa orang baik akan berpulang dulu. Benar atau tidak adanya pernyataan tersebut, semoga saja rasa sakit yang melekat di raga beliau selama ini mungkin cara Tuhan untuk menghapus dosa-dosa sepanjang hidup. Semoga menjadi bukti bahwa beliau termasuk orang-orang yang berada dalam daftar pilihanNya untuk mendapatkan tempat terbaik. 

Aamiin. 

13 November sedang rindu-rindunya sama Mbah Kakung :")
"Iiiihhh jajannya menggoda banget. Pengen nyobain. Tapi aku lagi diet."
"Hari ini aku makannya buah. Besok sayur. Kan lagi diet."

Yha. Hampir tiap hari (kalo kumpul ding) kata "diet" sliweran masuk kuping. Mungkin kalo dikumpulin udah jadi kamus yang dari bentuk penulisannya macam apa sampai berapa panjang pengucapannya. Dan... Sedikit annoying~ hmm.

Hal ini kejadian sama temen yang dari pertama kenal sampai kemarin ketemu, bahasannya soal diet. Diet model A sampai Z udah pernah dicobain. Usahanya buat mendapatkan badan impian sampai dibela-belain konsul ke dokter ternama, udah pernah. Jenis sayur, buah, minuman, cara masak juga udah pernah dilakuin. Olahraga dari yang termurah (bahkan gratis) sampai termahal buat harga anak kost, jangan tanya lagi - udah. Intinya semua udah pernah dicoba dan dilakukan. Mungkin kalian yang ingin mencoba jenis-jenis diet bisa tanya atau konsultasi dan bisa dibilang temenku ini pakarnya. HAHA.

Tapi sampai saat ini hasilnya masih tetap sama. Pernah lihat ada perubahan, dan itu hanya berlangsung beberapa waktu. Perubahan yang dimaksud, turun berat badan. Abis itu naik lagi berat badannya. Asupan makan jadi tidak terkontrol lagi.

Tidak ada yang melarang untuk melakukan diet. Itu hak kalian kalo memang ingin terlihat lebih aduhai dan sehat. Menjalani program diet akan kelihatan hasilnya kalo memang benar-benar konsisten. Butuh keimanan yang dijaga ketat demi tujuan awal. Sebentar loyo atau merasa capek (dan pengen udahan) disitulah peluang kemalasan. Semangat jadi kendur. Merasa bosan itu wajar. Tinggal menyikapinya seperti apa.

Semua hal di dunia ini butuh konsistensi. Apapun itu. Sangat butuh dan penting. Kalo memang impian yang sedari awal ingin diraih. Termasuk tantangan ngeblog ini (kalo masih dianggep yes). Menulis juga butuh konsistensi. Tujuan awal sekedar meringankan kerja otak. Syukur syukur bisa seterusnya. Iseng iseng berhadiah (rasanya masih jauuuuhhh banget).

Yang paling penting, pegang tujuan awal kita untuk melakukan sesuatu. Just it !
Matahari begitu menyengat. Angin bercampur debu seolah menikmati alurnya. Kebulan asap menggulung hitam. Udara yang (tidak) begitu dingin telah berubah panas. Naiknya derajat suhu membuat derasnya cucuran keringat.

Nampak padat setiap persimpangan jalan. Tak ada celah sedikitpun untuk bernafas. Penuh tak beraturan.  Detik lampu merah yang semakin diulur.Mengular dan merayap. Semrawut lalu lintas siang. Ditambah perbaikan yang menggunakan alat besi di sudut selatan.

Menyelonong dari sudut kanan ku berdiri. Melintas tanpa dosa, melebihi batas waktu. Sedari awal jalanan yang tanpa lengang, kini semakin menjadi. Menjadi tak menentu arahnya. Ke kanan bisa saja serong ke kiri, begitu sebaliknya. Semua sama sama ingin mendahului. Semua ingin mendapatkan kesempatan. Semua tidak memikirkan baik buruknya. Apalagi rasa merasa bersalah. Seolah olah nyawa bisa diisi ulang seperti air galon.

Perempuan di balik kaca, tengah kebingungan mengemudikan setir. Depan, samping kanan, dan samping kiri, telah menghadangnya. Seperti asik bermain Bom Bom Car, layaknya polisi berhasil mengepung buronan. Klakson tak ada hentinya. Hanya berdiam mencari jalan keluar.

Runyam. Terlalu memaksakan. Semakin memperparah kondisi. Entah apa yang ada di pikirannya. Hanya bermodal 'bisa' pegang setir. Tanpa logika mengendarai. Miris.

Kini bagian simpang kanan saatnya melaju. Satu titik di tengah belum berhasil mencari jalan keluar. Sedikit demi sedikit, perempuan itu menemukan celah untuk keluar dari lingkar kepadatan. Lagi lagi saling beradu cepat. Braaaakkk.

______________

Dampak suhu yang meningkat membuat semua orang ingin cepat sampai tujuannya. Tanpa memperhatikan aturan dan akibat. Tanpa pengawasan ikut mempengaruhi. Semua orang bisa mengemudikan. Tidak pandang usia. Namun semakin sedikit yang menggunakan logika.

Alangkah lucunya orang-orang ini, memang benar adanya.
Entah kenapa perjalanan menuju Kota tadi pagi tidak seburu buru biasanya. Lebih menikmati dan mengamati cara berkendara orang orang. Dari yang naik sepeda, motor, truk, hingga bis.

Bukan cerita baru lagi kalau bis di daerah saya memang sering lari larian yang seolah olah sedang menjuarai perlombaan. Tidak peduli samping kanan atau kiri bahkan depan ada lawan yang sama sama kuatnya dan berakibat fatal. Yang penting sampai tujuan dengan waktu yang tepat. Yang katanya bis bis itu memang sering kebut kebutan karena mengejar waktu.

Untuk saat ini aku tidak akan membahas lebih panjang bagaimana tingkah polah sopir sopir bis itu. Mataku tertuju pada dua orang pengendara motor. Sama sama ingin menjadi terdepan. Namun tidak menyadari apakah sudah sesuai menjadi pengendara motor yang baik dan benar. Sepele tapi penting.

Jam baru berjalan ke arah angka sembilan. Sepertinya kewajiban seorang bapak juga baru dimulai. Kalaupun memang dikejar waktu kenapa tidak berjalan sedari pagi buta. Tanpa harus mepet sana mepet sini. Membuat orang semakin geram.

Masih menjadi pertanyaan, sama sama naik motor tetapi tidak terima didahului atau dipepet. Salah satu diantaranya berkendara menggunakan handphone yang tertempel di pipi dan helm. Marah marah sepanjang jalan. Tak mau mengalah, menyalip dari bagian kiri jalan.

Begitulah realitanya...


Older Posts

Social

  • Follow on Twitter
  • Follow on Instagram

Popular

  • 24 - 25
    "Aku 25 kak" "Baru 23" "27 hehehehehe" "24 :) " "Aku 22, muda sendiri dong" ...
  • Perayaan Resign
    Bagi sebagian orang mengundurkan diri ( resign ) dari pekerjaan sebelumnya jarang yang merayakan resign bahkan tidak perlu. Kedengarannya m...
  • Perempuan Di Balik Kaca
    Matahari begitu menyengat. Angin bercampur debu seolah menikmati alurnya. Kebulan asap menggulung hitam. Udara yang (tidak) begitu dingin t...

Archive

  • ▼  2020 (1)
    • ▼  Mei 2020 (1)
      • Resep Pink Smoothies ala Yummy App, Minuman Sehat ...
  • ►  2018 (1)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ►  2017 (15)
    • ►  Desember 2017 (2)
    • ►  November 2017 (2)
    • ►  September 2017 (11)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Desember 2014 (2)
Diberdayakan oleh Blogger.
Created By SoraTemplates | Distributed by GooyaabiTemplates