• Home
  • About Me
  • Contact
  • Sitemap

a Little Journey of Life

Demi mengejar likes atau menjadi lebih hits, butuh effort untuk mengedit foto agar terlihat menarik. Beragam aplikasi edit foto terpasang di menu smartphone meskipun kapasitas RAM hampir menipis. Aplikasinya mulai dari yang bisa meniruskan pipi hingga merubah wajah menjadi mulus tanpa noda sekalipun. Terkadang satu foto bisa menumpuk beberapa filter. Dan pastinya dibalik foto yang sempurna ada perasaan bangga dan senang. 

Berbicara mengenai foto, tidak lepas dari cara pengambilannya atau yang biasa disebut angle. Membutuhkan beberapa kali jepretan untuk menghasilkan foto yang kece dan siap diupload di media sosial. Alat yang digunakan pun juga menunjang dalam pengambilan gambar. Apalagi cahaya juga berpengaruh di dalamnya. 

Untuk menambah dan memperkuat ilmu fotografi, saya tertarik mengikuti acara yang diadakan oleh Genpi Jateng kemarin Jumat (27/10/2017). Acara kedua yang bertajuk Street Photography "Mengabadikan Cerita dengan Kamera" yang bertempat di Tekodeko Koffiehuis. Dari tema yang dipilih sudah pasti akan menarik tukang foto dengan berbagai senjatanya. Minder? Sedikit. Tapi bodo amat. Saya tetap menggenggam niat yang sudah dibungkus rapi dari rumah-mencari ilmu.

Yang membuat saya tertarik lagi, di acara ini tidak diwajibkan membawa kamera DSLR dan sejenisnya. Namun peserta boleh membawa kamera handphone juga. 



dok.pri. 


Speaker acara Ngopi #2 : Ngobrol bareng Genpi kemarin seorang fotografer company profile, Vega Viditama. Selain materi yang diberikan waktu Jumat sore minggu lalu, seluruh peserta diajak berkeliling Kawasan Kota Lama Semarang untuk hunting foto yang nantinya akan dibedah bersama. Berhubung hujan deras, kami diminta untuk bersabar dan mendengarkan penjelasan sedikit dari pemandu mengenai sejarah Kota Lama. FYI Taman Sri Gunting yang bersebelahan dengan Gereja Blenduk dulunya merupakan tempat pemakaman orang Belanda. Namun saat ini, tidak perlu cemas karena pemakaman tersebut sudah dipindahkan. Kini disulap menjadi Taman yang lumayan yoi untuk berteduh dan sedikit relax. 

Mas Vega Viditama dari kejauhan ehehe
dok.pri. 

Pemandu dan Mas Vega
dok.pri. 

Hujan nampaknya sudah bersahabat, and here we goooo.... Peserta dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok A diberikan kesempatan untuk mengeksplore bagian Taman Sri Gunting dan sekitarnya selama 15 menit dan kelompok B menyusuri bagian Kepodang yang dulunya sering dijadikan tempat sabung ayam. Saya, masuk dalam kelompok B. Menurut pemandu (entah lupa namanya) lokasi Kepodang ini sering dijadikan destinasi utama wisatawan lokal maupun mancanegara bahkan fotografer juga. Di lokasi ini pernah dijadikan setting film Ayat Ayat Cinta lho. 

dok.pri. 
dok.pri. 
Bu Widi in frame
dok.pri. 
dok.pri. 
Sisa sisa syuting film Ayat-Ayat Cinta
dok.pri. 


Setelah kami dibebaskan berkeliaran di Kepodang, waktunya bergantian mengeksplorasi bagian Taman Sri Gunting. Mungkin karena sudah kelelahan saya, Mba Wida, dan Bu Widi (kenalan baru di acara Ngopi #2) hanya duduk duduk di Taman sambil menunggu waktu yang ditentukan pemandu. Ehehe

Jam lima sore tepat, seluruh peserta kembali ke cafe. Beberapa dari peserta Ngopi #2 diminta untuk mengirimkan hasil foto ke email Mas Vega untuk dibahas bersama. Satu persatu hasil foto sudah terpampang di pojok tembok cafe yang berlantai dua ini. Menurut Mas Vega, Street Photography  memang susah susah gampang. Perlu kesabaran tingkat dewa untuk mendapatkan moment realnya.  Pengertian Street photography yang saya tangkap dari materi kemarin yaitu pengambilan gambar yang menunjukkan realitas yang terjadi tanpa dipose khusus.

Selesai membedah foto, peserta juga diedukasi cara mengedit foto menggunakan aplikasi Snapseed. Aplikasi tersebut terbilang ramai diunduh pengguna smartphone dan tidak banyak filter yang membuat foto tidak lebay editannya.

Yang membuat saya termotivasi setelah mengikuti acara ini dan selalu terngiang di kepala saya (hingga kini), seperti yang diucapkan Mas Vega "Maksimalkan dengan alat yang kita punya. Jangan sampai alat yang membatasi diri kita"


 Out of the box atau keluar dari zona nyaman bagi orang seperti saya memang tidak mudah dilakukan. Apalagi berkumpul dengan orang baru tanpa ditemani teman atau partner juga jarang bahkan hampir tidak pernah. Butuh proses untuk berpikir dua kali dan ujung-ujungnya selalu dikuasai perasaan malas. Setelah seharian bosan berselancar di media sosial karena jaringan internet di rumah tidak begitu bagus, saya terpaku membaca tweet akun @AsliSemarang. Tweet yang berisikan tentang diadakannya sebuah acara bersama blogger. Uhhh... Sedikit tertantang, karena saya juga baru belajar ngeblog dan beruntung bisa menambah ilmu.

Berangkat dengan modal nekad, saya tertarik mengikuti acara Ngobrol Bareng Genpi (Ngopi #1). Acara yang digelar kemarin sore (Rabu, 27/09/2017) di gedung di kawasan kota lama. Spiegel Bar & Bistro tepatnya. Acara yang baru pertama kali diadakan oleh Genpi Jateng dengan mengusung tema Travel Blogger, Dari Hobi Jadi Hoki. Tiga kata yang menjadi pusat perhatian (termasuk saya), Travel-Blogger-Hoki.

Selesai cek saldo rekening yang sangat cukup (alhamdulillah), segera menghubungi contact person. Pastinya sudah melewati satu hari satu malam untuk berpikir antara iya atau tidak ikut. Ehehehe.

Sore yang mendung dan sedikit bergerimis, saya sudah bersiap untuk mengikuti rangkaian acara. Acara ngopi kali ini dibuka oleh Ketua Genpi (Generasi Pesona Indonesia) Karesidenan Kedungsepur, Pak Sofyan. Beliau memaparkan bahwa GenPI Jateng meliputi Kota Semarang, Kendal, Ungaran, Demak, Purwodadi, Klaten, dan Sragen. Beliau imbuhkan juga bahwa acara ini baru pertama kali dilakukan dan acara selanjutnya dibulan Oktober sampai seterusnya dengan tema beragam. Jika kalian tertarik, bisa pantau kegiatannya di Twitter @GenPIJateng atau Instagram @genpijateng.

Sumber : Twitter @AsliSemarang

Acara selanjutnya yang kami tunggu tunggu. Speaker Ngopi sekaligus Travel Blogger kali ini, Dhave Dhanang. Seorang dosen Fakultas Biologi UKSW yang karyanya berlalu-lalang di berbagai media. Sebuah tulisan yang dikombinasikan dengan kata-kata ilmiah yang pastinya tidak jauh dari ilmu Biologi. Menarik dan menjadi ciri khas setiap tulisannya. Penasaran seperti apa, bisa kepo nih salahsatunya di www.kompasiana.com .

Seperti yang dikatakan Kak Dhave bahwa menulis itu butuh rasa. Sebisa mungkin selesai berkegiatan dan ingin dishare di blog segera kerjakan diwaktu itu juga. Feel yang dirasakan agar tidak hilang. Energi bisa tersalurkan ke sebuah tulisan.

Dari sekian poin yang dipresentasikan di depan dengan gayanya yang seperti mengikuti StandUp Comedy, saya setuju (pake banget) bahwa menulis atau isi blog merupakan ciri khas diri kita. Kenapa? Karena hal itu menjadi sumber kekuatan seorang blogger. Mudah diingat oleh pembaca. Walaupun kita sama dengan oranglain, sebisa mungkin menjadi lebih baik dari orang tersebut. Dan menjadi seorang Travel Blogger harus bisa, belajar, dan berlatih menulis, ngeblog, dan (paling penting) memotret.

Urusan jepret menjepret, Kak Dhave tidak sungkan mengatakan bahwa dia juga sering menggunakan hape sebagai alternatif dikala baterai kamera DSLR tidak bisa diajak kompromi.

Sumber foto : Instagram @genpijateng

Di akhir acara rasanya kurang lengkap kalo tidak mengabadikan moment bersama. Di sela sela foto bersama saya sempat mendengar dan sedikit nguping bahwa Kak Dhave berpesan ke salah satu peserta yang intinya jangan pernah malu untuk merendahkan diri dalam artian menyapa dulu sebelum disapa orang sekalipun ke anak-anak. Hal ini juga dilakukan ke saya ketika mengikuti akun Instagramnya @dhavers beberapa menit langsung difolbek. Aaaaaaakkkkk... Aku seneng beettt.

Terimakasih Yang Semesta, tidak sia-sia aku harus melewati kemacetan yang diwarnai gerimis walopun tangan lelah harus tarik-lepas-tarik-lepas gas. Terimakasih Kak Dhave untuk berbagi ilmunya.


“ Ma kamu masih inget sama mas alif gak? Subjekku itu... . Dia minta nomermu. Boleh aku kasih ke dia” sebuah pesan singkat dari Mba Sahda (kakak tingkat kuliah) sore itu.
Sebelum aku membalas pesan tersebut, sedikit tersirat sebuah pertanyaan “ada apa? Ada kepentingan apa sama aku? Ah sudahlah... buat nambah temen aja”. Segera aku membalas pesan tersebut dan menanyakan ada apa. Ternyata bukan Mas Alif yang mau minta, tapi Mas Puji. Dia juga menjadi subjek penelitian Mba Sahda. Oke... bolehlah flashback sedikit. Waktu itu Mba Sahda ngajakin aku buat nemuin subjeknya untuk diwawancarai. Ya maklumlah dikejar deadline wisuda, jadi harus rajin nemuin subjek. Rasa penasaranku akhirnya terpenuhi juga. Di rumah yang sederhana aku berkenalan dengan makhluk Tuhan yang luar biasa. Iya namanya Mas Alif. Kedatangan kami disambut dengan ramah oleh keluarganya. Setelah lama ngobrol dan wawancara pun berlangsung. Aku cukup mendengarkan dan memperhatikan dari setiap kata yang keluar dari mulut kecilnya. Sekitar 3jam dirumah Mas Alif, kami pun pindah ke salah satu masjid di daerah UNDIP. Tepatnya di sebelah pom bensin (yang pasti aku lupa nama masjid itu :D ).

Social

  • Follow on Twitter
  • Follow on Instagram

Popular

Archive

  • ▼  2020 (1)
    • ▼  Mei 2020 (1)
      • Resep Pink Smoothies ala Yummy App, Minuman Sehat ...
  • ►  2018 (1)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ►  2017 (15)
    • ►  Desember 2017 (2)
    • ►  November 2017 (2)
    • ►  September 2017 (11)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Desember 2014 (2)
Diberdayakan oleh Blogger.
Created By SoraTemplates | Distributed by GooyaabiTemplates